Kehebatan manusia itu bukan ketika manusia bisa melihat dan menunjukkan kelebihan dirinya tapi
ketika seorang manusia bisa mengenali kelemahan mereka dan menutup rapat sisi
baik dari dirinya tanpa takut dengan asumsi buruk yang mungkin menghampirinya. Jika
seorang aku masih menyangkal dari kesalahan dan kelemahan di depan manusia,
atau bahkan di depan Tuhan yang sudah jelas mengenal diriku hingga titik nukleus
sekalipun, maka tak ada lain yang ku tunjukkan selain, kerendahanku sebagai
makhluk nafsi yang hanya terobsesi dengan keegoisan. Bukan makhluk setengah
malaikat yang selalu bertafakkur secara logis. Malaikat itu hanya memiliki
akal, yang ia lakukan hanyalah menunaikan tanggung jawab pada Tuhannya. Jika
aku, makhluk yang belum bisa bertanggung jawab bahkan kepada diriku dengan mengakui
kesalahanku atau tanggungan yang tidak ku penuhi dan hanya melihat
kepentinganku, tidak sesamaku, maka aku… tak lebih dari seorang manusia biasa.
Sesunguhnya, kemuliaan manusia tak dapat dilihat dirinya sendiri. Hanya
Tuhan dan Makhluk yang dapat mengenali kemuliaan manusia. Jiwa seorang manusia
itu rapuh dan lemah, karena tak hanya memiliki akal tapi juga nafsu. Seringkali
dialah yang tak mampu menerima kemuliaan dirinya sendiri dan berbalik menjadi
kelemahan berupa kesombongan. Itulah juga sebab ada sebagian ulama yang tidak
suka dipuji, karena takut terjadi kerapuhan pada jiwanya.
Diantara sebagian manusia yang baik adalah yang dikaruniakan
padanya nafsu almuthmainnah. Seperti halnya firman Allah :
$pkçJr'¯»t
ß§øÿ¨Z9$#
èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$#
ÇËÐÈ ûÓÉëÅ_ö$#
4n<Î)
Å7În/u
ZpuÅÊ#u
Zp¨ÅÊó£D
ÇËÑÈ Í?ä{÷$$sù
Îû
Ï»t6Ïã
ÇËÒÈ Í?ä{÷$#ur
ÓÉL¨Zy_
ÇÌÉÈ
Kemuliaan manusia sebenarnya
terlihat seperti padi, semakin lama ia semakin merunduk.
Selain itu, hukum dunia ini juga
tak pernah memberikan titik tertinggi, masih ada langit diatas langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar