Selasa, 16 Desember 2014

JIWA



Kehebatan manusia itu bukan ketika manusia bisa  melihat dan menunjukkan kelebihan dirinya tapi ketika seorang manusia bisa mengenali kelemahan mereka dan menutup rapat sisi baik dari dirinya tanpa takut dengan asumsi buruk yang mungkin menghampirinya. Jika seorang aku masih menyangkal dari kesalahan dan kelemahan di depan manusia, atau bahkan di depan Tuhan yang sudah jelas mengenal diriku hingga titik nukleus sekalipun, maka tak ada lain yang ku tunjukkan selain, kerendahanku sebagai makhluk nafsi yang hanya terobsesi dengan keegoisan. Bukan makhluk setengah malaikat yang selalu bertafakkur secara logis. Malaikat itu hanya memiliki akal, yang ia lakukan hanyalah menunaikan tanggung jawab pada Tuhannya. Jika aku, makhluk yang belum bisa bertanggung jawab bahkan kepada diriku dengan mengakui kesalahanku atau tanggungan yang tidak ku penuhi dan hanya melihat kepentinganku, tidak sesamaku, maka aku… tak lebih dari seorang manusia biasa.
Sesunguhnya, kemuliaan manusia tak dapat dilihat dirinya sendiri. Hanya Tuhan dan Makhluk yang dapat mengenali kemuliaan manusia. Jiwa seorang manusia itu rapuh dan lemah, karena tak hanya memiliki akal tapi juga nafsu. Seringkali dialah yang tak mampu menerima kemuliaan dirinya sendiri dan berbalik menjadi kelemahan berupa kesombongan. Itulah juga sebab ada sebagian ulama yang tidak suka dipuji, karena takut terjadi kerapuhan pada jiwanya.
Diantara sebagian manusia yang baik adalah yang dikaruniakan padanya nafsu almuthmainnah. Seperti halnya firman Allah :

$pkçJ­ƒr'¯»tƒ ß§øÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈ   ûÓÉëÅ_ö$# 4n<Î) Å7În/u ZpuŠÅÊ#u Zp¨ŠÅÊó£D ÇËÑÈ   Í?ä{÷Š$$sù Îû Ï»t6Ïã ÇËÒÈ   Í?ä{÷Š$#ur ÓÉL¨Zy_ ÇÌÉÈ
   Kemuliaan manusia sebenarnya terlihat seperti padi, semakin lama ia semakin merunduk.

Selain itu, hukum dunia ini juga tak pernah memberikan titik tertinggi, masih ada  langit diatas langit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar