Jumat, 14 November 2014

Curcol (Curhat Colongan)

Ku rasa, saat ini aku sedang berada pada masa peralihan, dari keterpurukanku menuju satu titik terang yang ditujukan Tuhan hanya teruntuk diriku. Aku mulai membaca beberapa makna, setidaknya dari satu atau dua kesalahan ku pada saat down, saat aku tidak mengenali siapa diriku. Yah.. itulah satu masa yang ku sebut masa amnesia psikologis bagiku. Aku bahkan tidak menemukan satu titik tangguh pun dalam setiap langkahku kala itu. Namun kini, aku mulai merangkak untuk meraih hentak-hentak kaki yang bergelora lebih dari semangatku saat hatiku belum tersapu badai dahulu.
Ini memang masa kebangkitanku yang sesungguhnya. Mengapa ku sebut demikian? Sebab beberapa saat lalu aku sempat merasakan gelora mulai tumbuh dalam hatiku, ku anggaplah itu masa move on, namun kenyataannya aku salah, aku hanya mengalami gejolak untuk sesaat karena aku masih belum bisa berpikir, otakku masih terkoyak dengan luka. Aku bahkan tak bisa merangkai mimpi dan menentukan arahku walau dalam hitungan detik di masa depan. Anehnya, aku begitu menikmati masa salah sangka itu, yang sebenarnya hanya jelmaan dari putus asa.
Kini… ku harap inilah masa revolusi yang sesungguhnya. Aku mulai bisa menggunakan logikaku dengan benar, sepertinya luka yang sudah menganga itu sudah kering dan hanya meninggalkan bekas tanpa perih. Aku mulai membaca makna, bahwa dunia ini menyimpan beribu-ribu kisah tragis yang mungkin tidak pernah terlintas dalam benak seorang anak adam sepertiku. Aku bukanlah satu-satunya hamba yang diuji iman dan ketabahan hatinya, ada banyak hamba lain yang digoncang habis-habisan imannya. Hanya saja tergantung ketakwaan yang mampu menentukan berhasil atau tidaknya. Kalau kurang takwanya tentu saja terjatuh di jurang dosa. Itu yang ku sebut goncangan iman dalam badai.
Selain itu, cobaan hidup itu ibarat metamorfosis pada kupu-kupu, setiap tahap memiliki kriteria kesulitan tertentu, hingga sampai pada level tertinggi, tibalah saatnya sang kupu-kupu harus berusaha sendiri untuk menembus lapisan kepompongnya. Hal ini sangat menyakitkan tentunya, hanya saja jika si kupu-kupu telah berhasil menembus lapisan itu, terwujudlah sayap kupu-kupu itu yang tangguh dan indah. Sayap itu dapat berfungsi dengan sempurna. Berbeda cerita jika dalam proses perobekan lapisan kepompong itu dibantu oleh manusia, si kupu-kupu tidak akan kesulitan dan kesakitan, namun ia tak akan pernah bisa terbang dengan sayapnya. Itulah mengapa terkadang Allah membiarkanku sendiri dalam kesulitan dan bebanku, ia tak membiarkan satu tanganpun mampu menggenggam titik terapuh dariku. rupa-rupanya  Ia ingin aku memiliki sayap yang sangat tangguh untuk terbang dan menemui-Nya di Arsy, dalam singgasana-Nya yang paling Agung.
Satu hal makna juga yang ku temukan adalah manusia adalah makhluk nafsi yang semuuanya membenarkan dirinya sendiri, makhluk paling egois, kecuali yang memang benar-benar hamba. Ini karena ku temukan bahwa sekalipun manusia itu menyadari bahwa ia salah, maka ia tidak akan dengan mudah mendeklarasikan kesalahannya, pasti masih ada embel-embel pembelaan atas dirinya dengan mengungkit-ungkit kebenaran dirinya dimasa lalu mungkin, atau dengan memaparkan kesalahan orang lain, agar dibenarkan manusia yang lainnya. Ternyata pengakuan kesalahan belum cukup menyentuh wilayah kehambaan. Akulah hamba yang masih belum hamba itu, masih banyak alasan yang ku sodorkan untuk menghindari makian manusia. Setidaknya tolong luruskanlah hatiku, Yaa Allah.

Dunia ini memang menakutkan dengan kekejaman. “Allah, betapa tragis dan menakutkan lorong-lorong dunia yang sempat ku lewati. Sungguh, aku benar-benar tak ingin dan tak mampu melaluinya tanpa Engkau. Jauhkanlah aku dari fitnah dunia beserta fatamorgananya yang tajam yaa Robbul Izzati. Ku tenggelamkan sujudKu tepat di sudut terendahMu Tuhan… Aku menyerahkan segala tentang diriku hanya sesuai kehendakMu, jadikanlah saja aku bonekaMu yang kau tuntun bahkan dalam 1 kedip matanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar