Ku rasa,
saat ini aku sedang berada pada masa peralihan, dari keterpurukanku menuju satu
titik terang yang ditujukan Tuhan hanya teruntuk diriku. Aku mulai membaca
beberapa makna, setidaknya dari satu atau dua kesalahan ku pada saat down, saat
aku tidak mengenali siapa diriku. Yah.. itulah satu masa yang ku sebut masa
amnesia psikologis bagiku. Aku bahkan tidak menemukan satu titik tangguh pun
dalam setiap langkahku kala itu. Namun kini, aku mulai merangkak untuk meraih
hentak-hentak kaki yang bergelora lebih dari semangatku saat hatiku belum
tersapu badai dahulu.
Ini memang
masa kebangkitanku yang sesungguhnya. Mengapa ku sebut demikian? Sebab beberapa
saat lalu aku sempat merasakan gelora mulai tumbuh dalam hatiku, ku anggaplah
itu masa move on, namun kenyataannya aku salah, aku hanya mengalami gejolak untuk
sesaat karena aku masih belum bisa berpikir, otakku masih terkoyak dengan luka.
Aku bahkan tak bisa merangkai mimpi dan menentukan arahku walau dalam hitungan
detik di masa depan. Anehnya, aku begitu menikmati masa salah sangka itu, yang sebenarnya
hanya jelmaan dari putus asa.
Kini… ku
harap inilah masa revolusi yang sesungguhnya. Aku mulai bisa menggunakan
logikaku dengan benar, sepertinya luka yang sudah menganga itu sudah kering dan
hanya meninggalkan bekas tanpa perih. Aku mulai membaca makna, bahwa dunia ini
menyimpan beribu-ribu kisah tragis yang mungkin tidak pernah terlintas dalam
benak seorang anak adam sepertiku. Aku bukanlah satu-satunya hamba yang diuji
iman dan ketabahan hatinya, ada banyak hamba lain yang digoncang habis-habisan
imannya. Hanya saja tergantung ketakwaan yang mampu menentukan berhasil atau
tidaknya. Kalau kurang takwanya tentu saja terjatuh di jurang dosa. Itu yang ku
sebut goncangan iman dalam badai.
Selain itu,
cobaan hidup itu ibarat metamorfosis pada kupu-kupu, setiap tahap memiliki
kriteria kesulitan tertentu, hingga sampai pada level tertinggi, tibalah
saatnya sang kupu-kupu harus berusaha sendiri untuk menembus lapisan
kepompongnya. Hal ini sangat menyakitkan tentunya, hanya saja jika si kupu-kupu
telah berhasil menembus lapisan itu, terwujudlah sayap kupu-kupu itu yang
tangguh dan indah. Sayap itu dapat berfungsi dengan sempurna. Berbeda cerita
jika dalam proses perobekan lapisan kepompong itu dibantu oleh manusia, si
kupu-kupu tidak akan kesulitan dan kesakitan, namun ia tak akan pernah bisa terbang
dengan sayapnya. Itulah mengapa terkadang Allah membiarkanku sendiri dalam
kesulitan dan bebanku, ia tak membiarkan satu tanganpun mampu menggenggam titik
terapuh dariku. rupa-rupanya Ia ingin
aku memiliki sayap yang sangat tangguh untuk terbang dan menemui-Nya di Arsy,
dalam singgasana-Nya yang paling Agung.
Satu hal
makna juga yang ku temukan adalah manusia adalah makhluk nafsi yang semuuanya
membenarkan dirinya sendiri, makhluk paling egois, kecuali yang memang
benar-benar hamba. Ini karena ku temukan bahwa sekalipun manusia itu menyadari
bahwa ia salah, maka ia tidak akan dengan mudah mendeklarasikan kesalahannya,
pasti masih ada embel-embel pembelaan atas dirinya dengan mengungkit-ungkit
kebenaran dirinya dimasa lalu mungkin, atau dengan memaparkan kesalahan orang
lain, agar dibenarkan manusia yang lainnya. Ternyata pengakuan kesalahan belum
cukup menyentuh wilayah kehambaan. Akulah hamba yang masih belum hamba itu,
masih banyak alasan yang ku sodorkan untuk menghindari makian manusia. Setidaknya
tolong luruskanlah hatiku, Yaa Allah.
Dunia ini
memang menakutkan dengan kekejaman. “Allah, betapa tragis dan menakutkan
lorong-lorong dunia yang sempat ku lewati. Sungguh, aku benar-benar tak ingin
dan tak mampu melaluinya tanpa Engkau. Jauhkanlah aku dari fitnah dunia beserta
fatamorgananya yang tajam yaa Robbul Izzati. Ku tenggelamkan sujudKu tepat di
sudut terendahMu Tuhan… Aku menyerahkan segala tentang diriku hanya sesuai
kehendakMu, jadikanlah saja aku bonekaMu yang kau tuntun bahkan dalam 1 kedip
matanya.”